4. Jika seseorang dengan penyakit tertentu ingin berpuasa
Pada dasarnya, selama penyakit yang diderita bukan penyakit komplikasi dan infeksi berat, seseorang tetap boleh berpuasa. Tentu saja dengan catatan penyakitnya terkontrol, tetap minum obat, serta rutin memeriksakan diri ke dokter.
Berikut ini, kami sampaikan 3 penyakit yang masih bisa tetap berpuasa dengan beberapa catatan:
a. Pada penderita sakit maag, puasa tetap diperbolehkan. Gejala yang sering dikeluhkan penderita maag antara lain rasa tidak nyaman di ulu hati, mual, muntah, kembung, rasa panas di ulu hati, cepat kenyang, dan mulut pahit. Serangan dapat datang tiba-tiba dan hilang timbul.
Penyakit maag atau dispepsia digolongkan dalam 2 kelompok, yaitu organik dan fungsional. Dikatakan organik bila pada endoskopi ditemukan kelainan di kerongkongan, lambung, dan usus 12 jari. Fungsional, bila pada endoskopi tidak ditemukan kelainan.
Puasa pada dispepsia fungsional dapat meringankan bahkan menyembuhkan penyakit maag-nya. Memang pada hari-hari awal puasa terasa tidak nyaman. Seiring dengan berjalannya waktu, pola makan yang cukup dan teratur justru membuat kondisi kesehatan penderita maag semakin membaik, biidznillah (dengan seizin Allah)

Sedangkan puasa pada penderita dispepsia organik harus dilihat penyebabnya. Bila ada polip atau tumor, ulkus/luka, perdarahan, nyeri hebat, maka tidak diperbolehkan puasa. Pada penderita penyakit maag, sangat dianjurkan untuk makan sahur, karena sangat bermanfaat sebagai persiapan puasa. Pada saat berbuka, penderita dianjurkan makan dan minum yang manis terlebih dulu. Jangan makan dalam porsi besar, kurangi makanan berlemak dan makanan yang merangsang seperti asam atau pedas. Hindari makanan yang banyak mengandung gas seperti buncis, kubis, sawi putih, brokoli, bawang, dan telur.Hindari minuman soda, alkohol, dan kopi.
b. Pada penderita dengan penyakit ginjal, puasa diperbolehkan bila fungsi ginjal masih baik yaitu derajat 1 dan 2 (60-90% ginjal berfungsi). Penderita dengan fungsi ginjal derajat 3 dan 4 (15-60% ginjal berfungsi) tidak dianjurkan puasa. Sedangkan penderita yang menjalani hemodialisis/cuci darah (derajat 5) tidak diperbolehkan.
Sangat dianjurkan bagi penderita penyakit ginjal yang berpuasa untuk minum air putih yang cukup agar tidak terjadi dehidrasi. Namun demikian, jangan sampai konsumsi cairan berlebih karena bisa menyebabkan sesak napas. Selain itu, kandungan protein pada makanan harus dikurangi agar tidak memperberat kerja ginjal. Dan jangan lupa, tetap rutin mengonsumsi obat yang diresepkan dokter serta memeriksakan diri sesuai jadwal yang ditetapkan.
c. Untuk penderita kencing manis (Diabetes Mellitus/DM), puasa diperbolehkan bila kadar gula darahnya terkendali.
Selain itu, puasa juga boleh dilakukan oleh :
  • Penderita DM tipe-1 (diabetes karena kurangnya produksi insulin) yang stabil atau terkendali dengan perencanaan makan dan olah raga
  • Penderita DM tipe-2 (diabetes akibat kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin) dengan berat badan lebih serta kontrol yang baik dan pengawasan glukosa darah secara ketat
  • Penderita DM yang mendapat suntikan insulin satu kali per hari.
Sedangkan yang tidak dianjurkan puasa antara lain :
  • Penderita DM dengan kadar gula yang tinggi sekali atau tidak stabil
  • Penderita DM yang tidak mengikuti diet, pemakaian obat dan pengaturan aktivitas
  • Penderita DM tipe 1 yang tidak stabil
  • Penderita tipe-1 dan tipe-2 dengan kontrol yang buruk
  • Penderita DM yang disertai komplikasi jantung, ginjal dan hati (karena kekurangan cairan dapat semakin membahayakan kerja organ-organ penting tersebut)
  • Penderita DM yang mendapatkan suntikan insulin dua kali sehari atau lebih
  • Penderita DM dengan komplikasi serius
  • Penderita DM dengan riwayat ketoasidosis
  • Penderita DM yang sedang hamil
  • Penderita DM yang sedang mengalami infeksi
  • Penderita DM dengan usia tua dengan masalah kesadaran
  • Penderita DM yang mengalami dua kali atau lebih episode hipoglikemia selama berpuasa di bulan Ramadhan.
Penderita DM disarankan supaya memantau kadar glukosa darah dengan ketat dan belajar mengenali gejala hipoglikemia dan dehidrasi sejak dini. Hipoglikemi adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah rendah karena tidak ada keseimbangan antara makanan yang dimakan, latihan jasmani, dan obat yang digunakan. Gejala hipoglikemi antara lain berkeringat dingin, gemetar, pusing, lemas, mata berkunang-kunang, dan rasa perih di ulu hati seperti orang kelaparan. Bila mengalami gejala seperti ini, hendaknya segera minum segelas teh manis atau sirup dan segera periksa ke dokter. Jika glukosa darah kurang dari 63 mg/dl sebaiknya segera berbuka.
Penderita DM sangat dianjurkan mengakhirkan waktu makan sahur serta menghindari makanan manis. Penderita DM dapat berbuka dengan makanan dan minuman yang menggunakan gula rendah kalori. Penderita sebaiknya mengkonsumsi karbohidrat tinggi serat seperti sereal atau roti gandum. Hendaknya tetap rutin mengonsumsi obat supaya kadar gula darahnya terkontrol, dan konsultasikan dengan dokter mengenai jadwal pemberian obat dan dosisnya.
TIPS SEHAT SELAMA MENJALANKAN IBADAH PUASA
Usahakan selalu bangun untuk makan sahur.
Sahur sangat penting untuk mendukung kelancaran ibadah puasa, karena makanan yang kita santap pada saat sahur akan menjadi cadangan energi selama kita berpuasa. Oleh karena itu, usahakan untuk tidak meninggalkan sahur ketika akan berpuasa karena terdapat berkah dalam makan sahur. Seperti yang terdapat dalam hadits dari Anas Ibnu Malik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya.”(Muttafaq ‘Alaih)
1. Jangan terlalu kenyang saat sahur
Banyak orang yang makan sebanyak-banyaknya ketika sahur dengan tujuan supaya kuat berpuasa. Padahal, terlalu banyak makan ketika sahur justru tidak baik karena akan menyebabkan melonjaknya kadar gula dalam darah serta merangsang keluarnya hormon insulin secara berlebihan. Hormon insulin ini akan mengangkut gula darah ke seluruh jaringan tubuh guna diubah menjadi glikogen atau lemak. Apabila kita makan terlalu banyak, maka glikogen dan lemak yang dihasilkan juga berlebihan. Padahal, lemak yang berlebihan sukar diuraikan menjadi gula darah kembali. Akibatnya, seseorang yang makan berlebihan saat sahur tidak bertambah segar, tapi justru semakin merasa lemas dan lesu.
2. Perbanyak konsumsi makanan berserat
Serat sangat baik untuk pencernaan dan memperlancar buang air besar. Selain itu, makanan berserat akan memperlancar proses pengeluaran racun dari dalam tubuh serta dapat mengurangi konsentrasi radikal bebas dalam tubuh, hingga sel-sel tubuh menjadi lebih segar dan elastis.
3. Usahakan kebutuhan cairan tercukupi
Usahakan tetap mengkonsumsi air 8 gelas setiap harinya, caranya antara lain dengan meminum sekitar 2 gelas saat buka puasa, lalu setelah tarawih hingga menjelang tidur, minum lagi sebanyak 3-4 gelas. Sedangkan pada saat sahur bisa minum sebanyak 2 gelas lagi. Minum air tidak selalu berarti air putih saja, tetapi minum teh, susu, jus buah, koktil buah, bahkan kuah sayur juga termasuk dalam jumlah air yang kita konsumsi.
4. Segerakan berbuka ketika waktunya telah tiba
Hendaknya kita menyegerakan berbuka, seperti yang terdapat dalam salah satu hadits dari Sahal Ibnu Sa’ad, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
“Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”(Muttafaq ‘Alaih)
Syari’at Islam yang sempurna telah mengajarkan pada kita supaya tidak memberat-beratkan diri dengan menunda berbuka puasa padahal waktunya telah tiba karena hal ini akan berdampak buruk pada kesehatan terutama pada organ lambung.
5. Jangan berlebihan saat menyantap hidangan berbuka puasa
Ajaran Islam menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam masalah makan dan minum, karena akan berakibat kurang baik bagi kesehatan kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidak ada ‘bejana’ yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka ia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk nafasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3349 dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Ibnu Majah no. 2720-red)
Dengan demikian, bisa kita pahami bahwasanya makan berlebihan tidak dianjurkan dalam Islam karena bisa menimbulkan berbagai macam akibat yang tidak baik bagi tubuh kita.
Pada saat berbuka puasa sebaiknya tidak langsung makan dan minum terlampau banyak. Berbuka puasa dengan makanan berat dalam jumlah banyak justru memberatkan kerja lambung yang sudah dibiarkan beristirahat sekitar 12 jam. Jangan sampai menjadikan waktu berbuka puasa sebagai ajang “balas dendam” setelah seharian menahan lapar dan haus. Setelah kadar gula darah berangsur-angsur kembali normal, lakukan shalat maghrib. Selang setengah jam kemudian, makanlah  menu lengkap secukupnya. Setelah shalat tarawih, boleh makan lagi jika masih lapar.
6. Pilih menu yang sehat untuk sahur dan berbuka
Bagi para ibu rumah tangga, menyajikan menu berbuka bagi keluarga tentu sangat menyenangkan. Dan alangkah lebih bijaksana jika para ibu menyiapkan menu yang sehat dan bergizi untuk menunjang kelancaran ibadah puasa seluruh anggota keluarga. Dengan memasak sendiri insya Allah lebih terjamin kebersihan dan kesehatannya. Namun, jika memang hendak membeli makanan matang, perhatikan kebersihan dan juga komposisi makanan atau minumannya. Pilih warung makan yang terjamin kebersihan dan kehalalannya. Selain itu, hindari makanan atau minuman yang mengandung zat pengawet, pewarna, dan pemanis buatan.
7. Jangan sembarangan mengkonsumsi vitamin
Setiap orang tentu menginginkan bisa tetap aktif saat puasa dan tetap fit sepanjang hari. Dengan alasan itu, muncul kecenderungan untuk mengkonsumsi suplemen vitamin. Namun ada yang perlu diingat, vitamin bukanlah sebagai makanan pengganti (subtitusi). Yang penting kita harus makan makanan sehat dan bergizi sehingga kebutuhan akan vitamin tercukupi lewat makanan yang bervariasi. Hendaknya kita tidak meminum vitamin sembarangan tapi konsultasikan dulu pada dokter.
8. Tetap berolahraga selama puasa
Kondisi fisik seseorang yang sedang berpuasa memang cenderung lemas karena menahan lapar dan haus. Namun demikian, bukan berarti tidak boleh berolahraga. Seperti yang kita ketahui, olahraga penting guna menjaga kebugaran dan vitalitas tubuh. Terlebih lagi bagi orang-orang tertentu dengan gangguan kesehatan seperti pada penderita penyakit jantung dan diabetes mellitus (kencing manis), dimana olah raga sudah menjadi kebutuhan untuk mengontrol penyakitnya dalam rangka proses penyembuhan.
Satu hal yang perlu diingat, semua harus direncanakan, sehingga tidak menimbulkan efek buruk pada tubuh. Susun program olah raga sesuai dengan berat penyakit dan tingkat kebugaran. Saat puasa, seseorang tidak dianjurkan berolahraga sampai tenaganya terkuras habis atau sampai badan lemah karena kecapekan. Melakukan olahraga yang ringan namun berkelanjutan lebih baik daripada olah raga yang berat dan memforsir.
Olah raga yang dianjurkan, sebagai berikut :
  • Kontinu, yaitu harus berkesinambungan dan terus menerus.
  • Ritmis, yaitu dilakukan secara ritmis dan teratur, sehingga otot-otot berkontraksi dan berelaksasi secara teratur (Misal : jalan kaki, lari, joging, bersepeda, mendayung. Hindari olah raga yang banyak berhentinya seperti main golf, tenis, atau bulu tangkis).
  • Interval, yaitu dilakukan berselang-seling. Kadang cepat, kadang lambat, tapi tanpa berhenti (Misalnya, joging diselingi jalan atau jalan cepat diselingi jalan lambat).
  • Progresif, yaitu dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dengan beban latihan ditingkatkan perlahan-lahan sampai 30 menit.
  • Endurance, yaitu latihan ketahanan untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah serta meningkatkan kardiorespirasi (Misal : joging, bersepeda).
Olah raga dimulai dengan pemanasan dan diakhiri dengan cooling down / peregangan masing-masing selama 5-10 menit. Olahraga bisa dilakukan satu jam atau 30 menit menjelang waktu berbuka supaya bisa segera minum pada saat waktu berbuka tiba. Sebaliknya, kurang tepat apabila olahraga dilakukan setelah makan sahur karena perut dalam keadaan kenyang sehingga dapat mengganggu kerja organ pencernaan. Selain itu, olahraga setelah makan sahur bisa menyebabkan badan capek sehingga muncul rasa haus dan lapar.
GANGGUAN KESEHATAN YANG BISA MENGHAMBAT KELANCARAN IBADAH PUASA
Berikut ini akan disampaikan pembahasan mengenai berbagai macam gangguan kesehatan yang kelihatannya sepele tapi bisa mengganggu kelancaran berpuasa, dan tentu saja disertai dengan cara mengatasinya :
a. Perut kembung
Perut kembung dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga mengganggu aktivitas orang yang berpuasa. Beberapa jenis makanan tertentu bisa menghasilkan gas di dalam saluran pencernaan, seperti buncis, kubis, sawi putih, brokoli, bawang, dan telur. Maka bagi yang peka terhadap makanan-makanan tersebut sebaiknya menghindari untuk sementara waktu. Selain itu, salah satu cara mencegah supaya tidak terjadi kembung adalah dengan mengunyah makanan dengan seksama untuk memudahkan proses pencernaan sehingga tidak terjadi pembentukan gas akibat proses fermentasi.
Untuk mengatasi perut kembung, bisa dengan minum secangkir teh jahe setelah makan. Teh jahe sangat baik untuk merangsang proses pencernaan makanan, sehingga makanan tidak terlalu lama berada di dalam usus kecil yang bisa memicu terbentuknya gas. Selain teh jahe, bisa juga mengatasi perut kembung dengan memakan pepaya. Pepaya mengandung enzim papain, yang bekerja membantu proses pemecahan makanan di dalam saluran pencernaan, sehingga pembentukan gas dapat dihindari.
b. Sembelit
Sembelit atau susah buang air besar merupakan gangguan yang cukup sering dikeluhkan orang yang berpuasa. Untuk mengatasinya, usahakan tetap mengonsumsi 8 gelas air setiap harinya, yaitu dengan meminum 2 gelas saat buka puasa, lalu setelah tarawih hingga menjelang tidur, minum lagi sebanyak 3-4 gelas. Sedangkan pada saat sahur, kita bisa minum sebanyak 2 gelas. Selain itu, jangan lupa untuk banyak mengonsumsi makanan berserat seperti sayur dan buah-buahan baik pada saat sahur maupun berbuka. Mengonsumsi kurma saat berbuka puasa juga sangat dianjurkan, karena serat yang terkandung dalam kurma dapat memperlancar buang air besar.
c. Tenggorokan kering dan suara serak
Selama berpuasa, otomatis kita tidak mengonsumsi air selama kurang lebih 12 jam. Kondisi ini berpotensi besar menyebabkan tenggorokan kering dan kadang suarapun menjadi serak. Dengan begitu, kegiatan ibadah lainnya seperti membaca atau menghafal Al-Qur’an juga ikut-ikutan terganggu. Kita tentu tidak ingin kondisi ini berlanjut dan menyurutkan semangat kita dalam menjalani hari-hari di bulan puasa.
Untuk mencegahnya, pastikan asupan cairan kita cukup, yaitu dengan mengonsumsi air paling tidak 2 liter perhari bisa. Dianjurkan untuk menghindari gorengan dan makanan yang bisa memicu batuk. Karena batuk yang muncul bisa memperparah sakit tenggorokan dan membuat suara makin serak. Hindari jajanan baik makanan maupun minuman yang menggunakan pemanis buatan. Pada beberapa orang yang sensitif, zat-zat tambahan pada makanan atau minuman bisa memicu terjadinya batuk dan gangguan tenggorokan. Disamping itu, selama keluhan masih ada, hendaknya bicara seperlunya dan jangan bersuara keras-keras terlebih dahulu.
d. Badan kecapekan
Kita semua tentu berlomba-lomba ingin memperbanyak ibadah baik pada siang maupun malam bulan ramadhan. Oleh karena itu, jangan sampai aktivitas kita terhambat hanya karena badan kecapekan. Salah atu caranya adalah dengan cukup istirahat. Sempatkan untuk beristirahat di sela-sela rutinitas kita yang padat. Jangan memforsir ketika melakukan suatu kegiatan, tapi dikerjakan semampunya dan bertahap (tidak sekaligus). Hal ini untuk menghindari tenaga kita terkuras habis, padahal waktu berbuka masih lama.
Istirahat yang dimaksudkan disini tidak berarti seseorang jadi banyak tidur dengan alasan lemas karena puasa. Terlalu banyak tidur justru membuat badan tidak bugar dan cenderung menjadikan seseorang jadi malas beraktivitas. Hendaknya proporsional dalam masalah waktu tidur, yaitu diniatkan sekedar untuk menghimpun tenaga sehingga dapat beribadah di bulan ramadhan.
PENUTUP
Demikianlah penjelasan seputar kesehatan di bulan puasa. Semoga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan penuh semangat. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah puasa kita dan senantiasa melimpahkan nikmat kesehatan pada kita semua.
Wallahu a'lam
salam_sitijamilahamdi
Penulis : dr. Avie Andriyani Ummu Shofiyyah
Referensi :
Arief Mansjoer (editor) dkk. Buku Kapita Selekta Kedokteran UI Jilid 1. Tahun 1999. Penerbit Media Aesculapius, Universitas Indonesia, Jakarta.
Cunningham, Mac Donald, Gant. Textbook Williams Obstetry Edisi 18. Tahun 1995. Penerbit EGC, Jakarta.
David B. Reuben, MD dkk, Buku “Geriatrics at Your Fingertips “. Tahun 2001. Penerbit Excerpta Medica, Inc. USA.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Buku Manajemen Laktasi.
Dr. C. Triwikatmani, Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2. Tahun 2002. Penerbit PB PERKENI, Jakarta.
Dr. Widodo Judarwanto, SpA, “Kiat Aman Berpuasa untuk Anak”. Jawa Pos, 22 Agustus 2009.
Dr. Hambrah Sri Atriadewi, “Atasi Gangguan Pencernaaan Saat Puasa dengan Konsumsi Kurma”. Healthy, edisi 01/tahun III/21 Agustus-3 September 2009.
Heidi Murkoff, dkk. Buku “Kehamilan, Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan”. Tahun 2006. Penerbit Arcan, Jakarta.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Metode Pengobatan Nabi, Bab “Mencegah Kelebihan Makan”, Tahun 2008. Penerbit Griya Ilmu, Jakarta.
One Day Simposium “Chronic Heart Failure, diagnosis, current management and cardio preventive care” , Solo, 24 Agustus 2008.
Scott C. Litin, M.D (editor). Mayo Clinic, Family Health Book Edisi 1, Tahun 2009, Penerbit PT Intisari Mediatama, Jakarta.
***

0 komentar